Oleh: donnur | 25 November 2009

EMHA AINUN NAJIB

Nama: EMHA AINUN NAJIB
Lahir: Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953
Agama: Islam
Isteri: Novia Kolopaking
Pendidikan:
- SD, Jombang (1965)
- SMP Muhammadiyah, Yogyakarta (1968)
- SMA Muhammadiyah, Yogyakarta (1971)
- Pondok Pesantren Modern Gontor
- FE di Fakultas Filsafat UGM (tidak tamat)
Karir:
- Pengasuh Ruang Sastra di harian Masa Kini, Yogyakarta (1970)
- Wartawan/Redaktur di harian Masa Kini, Yogyakarta (1973-1976)
- Pemimpin Teater Dinasti (Yogyakarta)
- Pemimpin Grup musik Kyai Kanjeng
- Penulis puisi dan kolumnis di beberapa media
Karya Seni Teater:
A Geger Wong Ngoyak Macan (1989, tentang pemerintahan ‘Raja’ Soeharto),
A Patung Kekasih (1989, tentang pengkultusan),
A Keajaiban Lik Par (1980, tentang eksploitasi rakyat oleh berbagai institusi modern),
A Mas Dukun (1982, tentang gagalnya lembaga kepemimpinan modern).

A Santri-Santri Khidhir (1990, bersama Teater Salahudin di lapangan Gontor dengan seluruh santri menjadi pemain, serta 35.000 penonton di alun-alun madiun),
A Lautan Jilbab (1990, dipentaskan secara massal di Yogya, Surabaya dan Makassar),
A Kiai Sableng dan Baginda Faruq (1993).
A Perahu Retak (1992).

Buku Puisi:
A “M” Frustasi (1976),
A Sajak-Sajak Sepanjang Jalan (1978),
A Sajak-Sajak Cinta (1978),
A Nyanyian Gelandangan (1982),
A 99 Untuk Tuhanku (1983),
A Suluk Pesisiran (1989),
A Lautan Jilbab (1989),
A Seribu Masjid Satu Jumlahnya ( 1990),
A Cahaya Maha Cahaya (1991),
A Sesobek Buku Harian Indonesia (1993),
A Abacadabra (1994),
A Syair Amaul Husna (1994)
Buku Essai:
A Dari Pojok Sejarah (1985),
A Sastra Yang Membebaskan (1985)
A Secangkir Kopi Jon Pakir (1990),
A Markesot Bertutur (1993),
A Markesot Bertutur Lagi (1994),
A Opini Plesetan (1996),
A Gerakan Punakawan (1994),
A Surat Kepada Kanjeng Nabi (1996),
A Indonesia Bagian Penting dari Desa Saya (1994),
A Slilit Sang Kiai (1991),
A Sudrun Gugat (1994),
A Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (1995),
A Bola- Bola Kultural (1996),
A Budaya Tanding (1995),
A Titik Nadir Demokrasi (1995),
A Tuhanpun Berpuasa (1996),
A Demokrasi Tolol Versi Saridin (1997)
A Kita Pilih Barokah atau Azab Allah (1997)
A Iblis Nusantara Dajjal Dunia (1997),
A 2,5 Jam Bersama Soeharto (1998),
A Mati Ketawa Cara Refotnasi (1998)
A Kiai Kocar Kacir (1998)
A Ziarah Pemilu, Ziarah Politik, Ziarah Kebangsaan (1998)
A Keranjang Sampah (1998) Ikrar Husnul Khatimah (1999)
A Jogja Indonesia Pulang Pergi (2000),
A Ibu Tamparlah Mulut Anakmu (2000),
A Menelusuri Titik Keimanan (2001),
A Hikmah Puasa 1 & 2 (2001),
A Segitiga Cinta (2001),
A “Kitab Ketentraman” (2001),
A “Trilogi Kumpulan Puisi” (2001),
A “Tahajjud Cinta” (2003),
A “Ensiklopedia Pemikiran Cak Nun” (2003),
A Folklore Madura (2005),
A Puasa ya Puasa (2005),
A Kerajaan Indonesia (2006, kumpulan wawancara),
A Kafir Liberal (2006)
A Jalan Sunyi EMHA (Ian L. Betts, Juni 2006)

Alamat Rumah:
Jalan Kadipaten Wetan K-11 Yogyakarta
Alamat Kantor:
Dewan Kesenian Daerah Istimewa Yogyakarta

Oleh: donnur | 25 November 2009

DO’A

kepada pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling
- Chairil anwar -
13 November 1943

Oleh: donnur | 25 November 2009

MALAM

Mulai kelam
belum buntu malam
kami masih berjaga
–Thermopylae?-
- jagal tidak dikenal ? -
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang
Zaman Baru,
No. 11-12
- Chairil anwar -

Oleh: donnur | 12 November 2009

http://donnur.files.wordpress.com/2009/11/wow-indah-bener3.jpg?w=150

Oleh: donnur | 12 November 2009

puisi

sahabat
kegagalan itu menyakitkan apalagi kegagalan untuk memiliki seseorang yang kita cintai

sahabat….
ku minta kamu mengerti apa yang hati ini mau
ku ingin kita tetap seperti dahulu yang slalu bersahabat tanpa ada rasa yang lain di hati kita karena cinta tu hanya akan membuat kita menjadi tersiksa dan membuat hati kita hancur….
sahabat….
andaikan kamu mengerti betapa tulus hatiku menyayangimu sebagai sahabatku mungkin kamu juga akan merasakan hal yang sama dan rasa sayangmu kepadaku adalah sayang tulus seorang sahabat bukanlah sayang dalam arti cinta

Oleh: donnur | 12 November 2009

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.